3/03/2012

Tak Bisa Bersama

Kilat berkilatan di angkasa, petir mengglegar-glegar, angin berhembus dari dan ke berbagai arah. Hujan pun turun dengan derasnya. Alam mulai mencekam, namun bukan hanya keadaan alam yang mencekam, keadaan hati gadis cantik  jelita di desa Sungaiban yang bernama Nasya juga ikut mencekam. Nasya tidak tahu apa yang sedang dan akan terjadi pada dirinya. Dirinya hanya mengikuti alunan degupan dada dan aliran darahnya serta jiwanya yang sedang tidak tahu menahu. Kalimat-kalimat Ayatullah selalu diingatnya dan diucapkannya.  Sampai-sampai dia sulit untuk memejamkan mata. Nasya terus berharap dengan tanda alam dan hatinya yang mencekam itu akan ada hal yang akan membuat hatinya senang.
Seiring dengan bergantinya dewi malam dengan sang mentari dia hanya dapat memejamkan mata sekitar 2 jam. Suara adzan telah terdengar, sang mentari akan memunculkan dirinya di timur bumi, ayam-ayam telah berkokok, burung-burung berkicauan, embun mulai menghilang, Nasya membuka matanya perlahan-lahan. Hingga dia terbangun dari bunga tidurnya. Nasya segera bangun dari tidurnya dan mengambil air wudhu. Setelah itu, dia menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah dengan ayah dan ibunya serta dengan adiknya yang bernama Rasya yang masih duduk di bangku SMA. Setelah itu Nasya dan adiknya Rasya belajar sebentar untuk menyiapkan materi untuk sekolah dan memahami berkas-berkas pekerjaanya nanti. Selepas dia memahami berkas  dan membaca materi pelajaran Nasya dan adiknya membantu ibunya menyiapkan sarapan pagi dan membersihkan rumah. Itulah yang selalu menjadi rutinitas mereka setiap paginya. Mereka kemudian mandi dan berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi.
“Ayo Dik Rasya, nanti telat lho” ajak Nasya kepada adiknya.
“Iya Kak, sebentar” sahut adiknya.
Kemudian ayahnya berangkat kerja ke kantor kecamatan, dan ibunya berangkat ke SMP Sungaiban 1 untuk mengajar siswa kelas 5 SD, Nasya pergi ke kantor perusaan “Jaya Usaha”, tempat dimana Nasya bekerja sebagai karyawan dan adiknya segera pergi ke sekolahnya yaitu SMA Nusa Bangsa. Sesampainya di ruang kerjanya, Nasya menurunkan berkas-berkas yang dibawanya dari rumah. Tiba-tiba teman sebelahnya datang menghampirinya.
“Rajin banget sih ngerjain tugasmu, kan belum jam kerja?”tegas Nori teman sebelah ruang kerja Nasya yang dianggap sebagai sahabatnya.
“Ya nggak papa kan biar cepet selesai, iya kan?”jawab Nasya dengan lembut. Suaranya memang termasuk kategori suara yang sangat lembut dan sopan, tidak pernah bicara keras.
“Ya….ya….ya….” tambah Nori. Ketika mereka sedang berbincang, tiba-tiba ada suara gemuruh “ggggggggggrgrrrrrrrrrrrrrkhkhkhkhkhkhh” dan bumi mulai bergoyang. Seketika itu juga Nasya beserta teman-temannya keluar dari ruangannya masing-masing serta mengucapkan kalimat-kalimat Ayatullah. Tak lama kemudian gempa bumi pun berhenti. Para karyawan kembali ke ruangan mereka masing-masing, selang beberapa detik, sudah di mulai jam kerja, tanpa sengaja Nasya tertabrak oleh seorang lelaki dari ruang dan lain bernama Defa. Tanpa sengaja Defa menjatuhkan berkas yang tanpa sengaja terbawa oleh Nasya saat gempa bumi terjadi. Kemudian Defa pun dengan sigap membantu mengambilkan bukunya. Defa menatap Nasya dengan penuh perhatian, namun Nasya hanya melihat Defa secepat kilat hanya untuk mengucapkan sesuatu dan menundukan kepalanya lagi.
“Terimakasih bantuannya:”patah kata Nasya.
“Maaf ya” kata spontanitas yang keluar dari ujung lidah Defa.
Belum sempat Defa mendengar jawaban dari Nasya, Nasya pun langsung masuk ke ruang kerjanya. Kemudian Defa pun juga kembali ke ruang kerjanya. Di perjalanan yang ada di benak hati dan pikirannya hanyalah gadis cantik itu.
“Astaghfirullah, apa sih yang saya pikirkan” pikir Defa dengan keheranan
 Saat akan pulang kerja ternyata kunci sepeda motor Nasya hilang, semua teman-temannya sudah pulang. Yang tersisa cuma empat orang yaitu Nasya, Nori, Muri dan Defa. Tadinya Nasya ingin pulang dengan naik ojek, tetapi tiba-tiba Defa berniat untuk memboncengkannya.
“ Assalamu’alaikum Sya”
 “Walaikumsalam”
“Kelihatannya kamu ada masalah?”
“Iya, kunci sepedaku hilang, ini lagi mau cari ojek”
“Ow... kalau begitu ayo bareng aku saja, nanti aku antarkan sampai depan rumahmu”, ajak Defa
“ Tidak usah, terimakasih, nanti malah ngrepotin”
“Enggak kok, ayo!”
“Ya sudahlah kalau kamu maksa, Bismillahirrahmanirrahim”.
Akhirnya mereka pun pulang bersama-sama. Di perjalanan menuju rumah Nasya tak sdikit pun kata yang terucap dari kedua bibir mereka. Nampaknya Defa telah jatuh hati dengan Nasya. Dengan berdebarnya dada Defa itu merupakan salah satu bukti. Tak lama kemudian mereka sampai di rumah Nasya.
“Terima kasih atas tumpangannya ya Fa, maaf sudah merepotkan”
“Sama-sama Sya, enggak kok”.
“Sekali lagi terimakasih ya”.
“Iya, ya sudah aku pamit pulang dulu ya, assalamu’alaikum”
“Walaikumsalam warahmatullah”
Dengan segera Defa kembali ke rumahnya. Saat di perjalanan Defa masih saja memikirkan Nasya, sampai-sampai tidak konsentrasi dengan jalan.
“Meow…meow…meow..w..”. Hampir saja Defa menabrak kucing.
“Innallillahi”
“Huft kucing”
Setibanya di dalam rumah Nasya bertemu dengan Ibunya.
“Nasya sepeda motormu kamu kemana?” Tanya Ibu Nasya
“Kunci sepeda motornya hilang Bu”
“Ya sudah buruan ambil kunci yang satunya saja dan ambil motormu”
“Ya Bu”. Nasya segera ke kamarnya dan ambil kunci motornya yang lain.
šË
Setelah beberapa hari, seluruh perasaan cinta dan sayang Defa kepada Nasya belum juga di ungkapkan oleh Defa. Namun tidak semata-mata karena Defa tidak berani untuk mengungkapkannya, Defa mempunyai alasan yang lain. Beberapa minggu terakhir Nasya sering sakit. Sudah di periksakan ke berbagai dokter di Jogjakarta dan sekitarnya, namun tidak ada penyakit yang terdeteksi. Nasya sangat khawatir dengan dirinya. Melihat keadaan Nasya, Defa jadi ikut sakit. Dan hanya bisa terbaring di tempat tidur sambil sesekali memikirkan Nasya. Kemudian Defa di jenguk oleh Pamannya.
“Fa, kamu itu sakit bukan karena fisikmu kan, tapi karena batinmu kan yang sakit?”, tanya Pamannya.
“Iya Paman”, jawab Defa dengan jujur.
“Defa sebernarnya gadis yang kau cintai itu bukan sakit biasa, tetapi dia itu di dikelilingi oleh dua syaitan yang dapat mempengaruhi kesehatan jasmani maupun rohaninya. Ketika syaitan-syaitan itu sedang membisiki gadis itu, pasti gadis itu langsung gelisah, dan juga akan mengganggu hubungan kalian, setan itu tidak mau kalau kalian bersatu. Ketika kedua setan itu bertengkar, antara setan kebaikan dan setan kejahatan pasti gadis itu langsung jatuh sakit. Itu lah sebabnya yang menyebabkan kalian jarang sekali untuk berbincang-bincang. Syaitan itu tidak mau kalian bersatu. Pasti ketika kalian hendak berbincang gadis itu langsung pergi meninggalkan kamu? Iya kan?” jelas pamannya dengan penuh bijaksana. Pamannya tahu sebab Paman Defa memiliki indera keenam, namun biasa disebut ilmu kebatinan.
“Iya Paman, ketika saya hendak mengungkapkan perasaan saya pasti Nasya langsung menghindar dari saya. Lantas apa yang harus saya lakukan agar Nasya bisa cepat sembuh dan terhindar dari syaitan-syaitan yang mengganggunya Paman?” Tanya Defa dengan penuh penasaran.
”Bukan perkara yang mudah Fa agar kamu bisa menyelamatkan Nasya”
“Apa pun Paman insyaAllah saya akan lakukan untuk Nasya, karena saya benar-benar menyayanginya karena Allah paman”
“Baiklah yang pertama kamu harus membaca Surat Al Fatihah sebanyak 7 kali, takbir 100 kali, tahlil 100 kali, sahadat 100 kali, Surat Yasin 7 kali dan yang terakhir do’a keselamatan dunia wal akhiroh, jika hal itu belum berhasil kamu harus menambah Ayat Kursi sebanyak 7 kali. InsyaAllah akan berhasil. Dan juga ingat ketika dia sudah tersadar dari sakitnya karena syaitan itu, diusahakan kamu langsung memberikan air putih kepadanya. Inilah tantangan yang paling berat, kamu  juga harus berhati-hati, karena sewaktu-waktu ketika syaitan itu telah pergi dari tubuh gadis itu, bisa saja syaitan itu pindah ke dalam raga mu, syaitan itu sangat mencintaimu, makanya dia tak mau kalau kamu bersatu dengan gadis itu”
“Iya Paman, terimakasih atas sarannya”. Hati Defa berbinar-binar, sangat terang, seperti matahari menyinari bumi di siang hari. Sungguh lega Defa mempunyai harapan untuk bisa melihat Nasya yang sebenarnya, bukan Nasya yang di kelilingi oleh syaitan. Setelah berbincang-bincang berbagai hal, Paman Defa pun berpamitan untuk pulang karena Paman Defa masih memiliki acara yang lain.
“Defa, cepat sembuh ya, Paman mau pamit pulang dulu, dan semoga berhasil menyembuhkan gadis itu atas seizin Allah, Amin”
“Amin, iya Paman, terimakasih, hati-hati Paman”. Kemudian Paman Defa beranjak dari tempat duduknya, dan keluar dari kamar Defa. Sembari tiduran Defa mulai menyusun rencana bagaimana agar dia bisa bertemu dengan Nasya dan juga bertepatan saat kedua syaitannya berdebat.
Keesokan harinya, Defa merasa bahwa dirinya sudah sembuh, kemudian Defa berpamitan kepada Ibunya untuk pergi ke rumah Nasya.
“Bu, saya pamit dulu mau keluar sebentar”
“Memangnya kamu sudah sembuh benar Fa?”
“Sudah Bu”
“Ya sudah kalau itu mau kamu, tapi hati-hati ya!”
“Iya Bu, Assalamu’alaikum”
“Walaikumsalam nak”.
Tak lama kemudian Defa keluar rumah membawa Al Qur’an, sesuai dengan niatnya yaitu mencoba mengobati Nasya atas petunjuk Allah melalui Pamannya. Defa hanya berjalan kaki, sambil menggerak-gerakkan tubuhnya karena kemarin seharian terbaring di rumah, dan juga karena jarak antara Rumah Defa dengan rumah Nasya yang tidak begitu jauh. Di perjalanan, Defa sudah terbayangkan bahwa dia bertemu dengan Nasya yang asli.
šË

“Assalamu’alaikum” sapa Defa.
“Walaikumsalam” sahut Ibu Nasya.
Kebetulan Nasya sedang berada di belakang rumah bersama adiknya, Rasya.
“Oo nak Defa, mari silakan masuk”
“Iya Bu, terimakasih”
“Cari  Nasya ya?”
“Iya Bu, Nasyanya ada Bu?”
“Ada, sebentar saya panggilkan, ayo duduk dulu”.
Kemudian Defa duduk, sesuai dengan perintah tuan rumahnya. Tak lama kemudian Nasya keluar untuk menemui Defa.
“Assalamu’alaikum Fa”
“Eh... Walaikumsalam”
“Ada apa Fa, tumben pagi-pagi udah kemari”
“Eemmhh....Cuma mau maen kok”
“Owwh”.
Belum sempat bicara lebih jauh, tiba-tiba Nasya jatuh pingsan. Seluruh keluarga Nasya berkumpul, dan ingin segera membawa Nasya ke dokter, namun Defa menghentikannya.
“Maaf Om, Tante, kalau boleh saya akan mencoba mengobati Nasya”
“Tentu saja Fa, silakan!”
Dan Defa pun segera melaksanakan tugasnya. Menyelesaikan satu per satu perintah Pamannya, di mulai dari Surat Al Fatihah sebanyak 7 kali, takbir 100 kali, tahlil 100 kali, sahadat 100 kali, Surat Yasin 7 kali dan yang terakhir do’a keselamatan dunia wal akhiroh. Ternyata belum berhasil, dan dia masih ingat kata-kata pamannya yang terakhir yaitu “Jika hal itu belum berhasil kamu harus menambah Ayat Kursi sebanyak 7 kali”. Kemudian Defa segera melaksanakannya, dan ternyata hal itu berhasil.
“Alhamdullillahirrobbil’alamin”.
Nasya segera sadar dari pingsannya. Perlahan Nasya membuka matanya. Tiba-tiba Pamannya datang ke rumah Nasya.
“Defa, kamu berhasil, syaitan yang ada di tubuh Nasya telah menghilang, dan tidak berhasil masuk ke dalam tubuhmu, selamat ya”
“Benarkah itu Paman?” Tanya Defa dengan penuh penasaran.
“ InsyaAllah atas seizin Allah Nasya telah sehat”
“Alhamdulillah ya Allah terimakasih atas segala rahmatMu”
“Defa sebenarnya apa sih yang sedang terjadi?”, Tanya Nasya dengan bingung.
“Enggak ada apa-apa kok Sya, cuma tadi kamu pingsan”
“Oww, ya syukurlah kalau gak ada apa-apa”.Kemudian Defa dan Nasya bercakap-cakap.
šË

Beberapa minggu kemudian Defa mengunjungi kembali rumah Nasya, gembira rasanya dan penuh debaran dada. Dunia seakan ikut tersenyum dengan keadaan Defa saat itu, karena tujuan Defa kerumah Nasya adalah untuk melamar Nasya.
Namun, apalah arti sebuah niat, jika Allah telah berkehendak. Sesampainya Defa sampai di rumah Nasya, tiba-tiba Nasya jatuh pingsan. Dengan setengah sadar Nasya mengigau dan merintih kesakitan. Seluruh keluarga Nasya dan seluruh keluarga Defa yang datang ke rumah Nasya ikut panik, karena semua berfikiran bahwa Nasya sudah terhindar dari syaitan-syaitan yang mengganggunya. Tetapi mengapa Nasya tiba-tiba pingsan dan merintih kesakitan sama seperti saat syaitan mengganggunya? Semua tidak ada yang tahu. Dengan segera keluarga Nasya dan Defa membawa Nasya ke rumah sakit. Setelah di periksa oleh dokter ternyata Nasya positif mempunyai penyakit kanker otak. Defa langsung jatuh pingsan ketika dokter telah memvonis Nasya dengan penyakit kanker otaknya. Setelah 2 jam Nasya pingsan, akhirnya Nasya sadarkan diri.
“Ibu, Nasya ada di mana ini?”
“Kamu di rumah sakit Nak”
“Kenapa saya ada di sini Bu?”
“Enggak kenapa-kenapa kok, tadi kamu cuma pingsan”
“Kalau cuma pingsan kok sampai di bawa ke rumah sakit Bu?”
“Enggak, tadi Ibu panik sehingga langsung saja di bawa kemari” Ibu Nasya tidak mau mengaku kepada Nasya, karena takut kalau nanti malah memperburuk keadaan Nasya. Baru saja Nasya tersadar dari pingsannya, tiba-tiba Nasya berteriak.
“Aduh...aduh....” sambil memegang kepalanya.
“Kenapa Sya?” Tanya Defa.
“Ibu, kepalaku sakit”
“Dokter!!!!!!!!Dokter!!!!!!!!” panggil Ibu Nasya
Baru saja dokter memeriksa Nasya, selang lima detik Nasya beberapa kali menarik napas panjang dan menghembuskan napas terakhirnya.
“Maaf Bapak, Ibu, Mas, anak Bapak dan Ibu sudah tidak tertolong lagi”
“Apa????!!!” serentak Ayah, Ibu dan Defa berteriak.
“Innalillahi wa innaillaihi roji’un”.
Seluruh orang yang berada disamping Nasya mulai meneteskan air mata.
“Nasya, kenapa kamu tinggalkan aku sendiri?” tangis Defa. Defa sangat terpukul melihat orang yang sangat dicintai dan disayanginya meninggalkannya.
“Nasya tunggu aku di pintu surga, semoga kita bisa bertemu lagi di sa.....”
Belum selesai Defa berkata-kata, Defa jatuh pingsan tak sadarkan diri.
Keesokan harinya saat di pemakaman Nasya, Defa terus menangis dan sering pingsan.




            Tak selamanya cinta bisa dirasakan di satu dunia, namun bisa juga dirasakan ketika berada di dunia yang  berbeda. Sebaik-baiknya cinta, paling baik adalah cinta karena Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar