4/09/2015

prinsip pemberian obat

KETERAMPILAN DASAR KEBIDANAN II
PRINSIP PEMBERIAN OBAT
Dosen Pembimbing: Kuswati, S.Kep, Ns, M.Kes



Disusun oleh :
1.      Desi Purnamasari               (P 27224013 230)
2.      Elok Sepalawati                 (P 27224013 238)
3.      Erlina Wati                        (P 27224013 240)
4.      Esti Wahyu Astuti             (P 27224013 243)
REGULER A
DIII KEBIDANAN
POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA
2014



PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dewasa ini meningkatnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan juga mendorong masyarakat menuntut pelayanan kesehatan termasuk pelayanan informasi tentang obat yang baik. Dalam pelayanan kesehatan, obat merupakan komponen yang penting karena diperlukan dalam sebagian besar upaya kesehatan baik untuk menghilangkan gejala dari suatu penyakit, mencegah penyakit ataupun menyembuhkan penyakit. Sehingga, kita perlu memastikan bahwa obat tersebut aman bagi pasien  dan mengawasi akan terjadinya efek samping dari pemberian obat tersebut pada pasien. Sebelum seorang perawat memberikan obat kepada pasien, perawat haruslah memahami prinsip-prinsip pemberian obat yang benar. Oleh karena itu, prinsip-prinsip pemberian obat harus ditaati oleh setiap perawat.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan obat?
2.      Apa saja prinsip-prinsip pemberian obat?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui pengertian obat.
2.      Untuk mengetahui bagaimana prinsip-prinsip pemberian obat yang benar.






PEMBAHASAN

A.     Pengertian Obat
1.      Menurut Ansel (1985)
obat adalah zat yang digunakan untuk diagnosis, mengurangi rasa sakit, serta mengobati atau mencegah penyakit pada manusia atau hewan.
2.      Menurut Kep. MenKes RI No. 193/Kab/B.VII/71
Obat adalah suatu bahan atau paduan bahan-bahan yang dimaksudkan untuk digunakan dalam menetapkan diagnosis, mencegah, mengurangkan, menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, luka atau kelainan badaniah dan rohaniah pada manusia atau hewan dan untuk memperelok atau memperindah badan atau bagian badan manusia.
3.      Menurut PerMenkes RI No. 242/1990
Obat jadi adalah Sediaan/paduan bahan-bahan yang digunakan untuk mempengaruhi/ menyelidiki sistem fisiologi/keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi.
4.      Menurut PerMenKes 917/Menkes/Per/x/1993
Obat (jadi) adalah sediaan atau paduan-paduan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki secara fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi.
Dimana obat dalam arti luas adalah setiap zat kimia yang dapat mempengaruhi proses hidup, maka farmakologi merupakan ilmu yang sangat luas cakupannya.





B.     Prinsip – Prinsip Pemberian Obat Pada Pasien
Menurut beberapa sumber, prinsip-prinsip pemberian obat pada pasien terdapat tiga pendapat, antara lain :
1.      Prinsip 6B
a.       Benar Pasien
Sebelum obat diberikan, identitas pasien harus diperiksa (papan identitas di tempat tidur, gelang identitas) atau ditanyakan langsung kepada pasien atau keluarganya. Jika pasien tidak sanggup berespon secara verbal, respon non verbal dapat dipakai, misalnya pasien mengangguk. Jika pasien tidak sanggup mengidentifikasi diri akibat gangguan mental atau kesadaran, harus dicari cara identifikasi yang lain seperti menanyakan langsung kepada keluarganya.
b.      Benar Obat
Obat memiliki nama dagang dan nama generik. Setiap obat dengan nama dagang yang kita asing (baru kita dengar namanya) harus diperiksa nama generiknya, bila perlu hubungi apoteker untuk menanyakan nama generiknya atau kandungan obat. Sebelum memberi obat kepada pasien, label pada botol atau kemasannya harus diperiksa tiga kali. Pertama saat membaca permintaan obat dan botolnya diambil dari rak obat, kedua label botol dibandingkan dengan obat yang diminta, ketiga saat dikembalikan ke rak obat. Jika labelnya tidak terbaca, isinya tidak boleh dipakai dan harus dikembalikan ke bagian farmasi. Jika pasien meragukan obatnya, perawat harus memeriksanya lagi. Saat memberi obat perawat harus ingat untuk apa obat itu diberikan. Ini membantu mengingat nama obat dan kerjanya.
c.       Benar Dosis
Sebelum memberi obat, perawat harus memeriksa dosisnya. Jika ragu, perawat harus berkonsultasi dengan dokter yang menulis resep atau apoteker sebelum dilanjutkan ke pasien. Jika pasien meragukan dosisnya perawat harus memeriksanya lagi. Ada beberapa obat baik ampul maupun tablet memiliki dosis yang berbeda tiap ampul atau tabletnya. Misalnya ondansentron 1 amp, dosisnya ada 4 mg, ada juga 8 mg, ada antibiotik 1 vial dosisnya 1 gr, ada juga 1 vial 500 mg. Jadi harus  hati-hati dan teliti dalam memberikan obat.
d.      Benar Cara/Rute
Obat dapat diberikan melalui sejumlah rute yang berbeda. Faktor yang menentukan pemberian rute terbaik ditentukan oleh keadaan umum pasien, kecepatan respon yang diinginkan, sifat kimiawi dan fisik obat, serta tempat kerja yang diinginkan. Obat dapat diberikan peroral, sublingual, parenteral, topikal, rektal, inhalasi.
1.      Oral, adalah rute pemberian yang paling umum dan paling banyak dipakai, karena ekonomis, paling nyaman dan aman. Obat dapat juga diabsorpsi melalui rongga mulut (sublingual atau bukal) seperti tablet ISDN.
2.      Parenteral, kata ini berasal dari bahasa Yunani, para berarti disamping, enteron berarti usus, jadi parenteral berarti diluar usus, atau tidak melalui saluran cerna, yaitu melalui vena (perset / perinfus).
3.      Topikal, yaitu pemberian obat melalui kulit atau membran mukosa. Misalnya salep, losion, krim, spray, tetes mata.
4.      Rektal, obat dapat diberi melalui rute rektal berupa enema atau supositoria yang akan mencair pada suhu badan. Pemberian rektal dilakukan untuk memperoleh efek lokal seperti konstipasi (dulkolax supp), hemoroid (anusol), pasien yang tidak sadar / kejang (stesolid supp). Pemberian obat perektal memiliki efek yang lebih cepat dibandingkan pemberian obat dalam bentuk oral, namun sayangnya tidak semua obat disediakan dalam bentuk supositoria.
5.      Inhalasi, yaitu pemberian obat melalui saluran pernafasan. Saluran nafas memiliki epitel untuk absorpsi yang sangat luas, dengan demikian berguna untuk pemberian obat secara lokal pada salurannya, misalnya salbotamol (ventolin), combivent, berotek untuk asma, atau dalam keadaan darurat misalnya terapi oksigen.
e.       Benar Waktu
Ini sangat penting, khususnya bagi obat yang efektivitasnya tergantung untuk mencapai atau mempertahankan kadar darah yang memadai. Jika obat harus diminum sebelum makan, untuk memperoleh kadar yang diperlukan, harus diberi satu jam sebelum makan. Ingat dalam pemberian antibiotik yang tidak boleh diberikan bersama susu karena susu dapat mengikat sebagian besar obat itu sebelum dapat diserap. Ada obat yang harus diminum setelah makan, untuk menghindari iritasi yang berlebihan pada lambung misalnya asam mefenamat.
f.       Benar Dokumentasi
Setelah obat itu diberikan, harus didokumentasikan, dosis, rute, waktu dan oleh siapa obat itu diberikan. Bila pasien menolak meminum obatnya, atau obat itu tidak dapat diminum, harus dicatat alasannya dan dilaporkan.

2.      8B 1W ( 8 Benar 1Waspada Efek Samping )
a.       Benar Pasien
Sebelum obat diberikan, periksa dulu nama pasien, no RM (nomor rekam medik), ruang tempat pasien dirawat, catatan pemberian obat atau kartu obat. Jika pasien dalam keadaan tidak sadar atau bayi bisa dicek melalui gelang identitas, pasien gangguan mental bisa ditanyakan langsung pada keluarganya.
b.      Benar Obat
Memastikan bahwa nama dagang sesuai dengan nama generik  obat atau kandungan obat, jika kita tidak yakin dengan nama dagang obat bisa ditanyakan nama generiknya  atau kandungan obat pada apoteker.  Sebelum memberi obat kepada pasien, label pada botol atau kemasannya harus diperiksa tiga kali. Pertama saat membaca permintaan obat dan botolnya diambil dari rak obat, kedua label botol dibandingkan dengan obat yang diminta, ketiga saat dikembalikan ke rak obat. Jika labelnya tidak terbaca, isinya tidak boleh dipakai dan harus dikembalikan ke bagian farmasi.
c.       Benar Dosis
Memastikan dosis yang diberikan sesuai dengan instruksi dokter dan catatan pemberian obat. Jika ragu, tenaga kesehatan harus berkonsultasi dengan dokter yang menulis resep atau apoteker sebelum diberikan ke pasien. Sebaiknya gunakan dosis dalam gram bukan dalam ampul. Misalnya 3 × 4 mg bukan 3 × 1 amp.
d.      Benar Waktu
Periksa waktu pemberian obat sesuai dengan waktu yang tertera pada catatan pemberian obat, misalnya obat diberikan 2 kali sehari maka catatan pemberian obat akan tertera waktu pemberian misalnya jam 6 pagi dan 6 sore. Perhatikan apakah obat diberikan sebelum atau sesudah makan.
e.       Benar Cara atau Rute
Memeriksa label obat untuk memastikan obat tersebut dapat diberikan sesuai cara yang diinstruksikan dan periksa pada label cara pemberian obat . Misalnya oral, parenteral, topikal, rektal, inhalasi, IV, IM.
f.       Benar Dokumentasi
Setelah obat itu diberikan, harus didokumentasikan, dosis, cara, waktu dan oleh siapa obat itu diberikan. Bila pasien menolak meminum obat atau tidak dapat diminum harus dicatat dan dilaporkan.
g.      Benar Expired atau Kadaluwarsa
Harus diperhatikan expired date atau masa kadaluwarsa obat yang akan diberikan. Biasanya pada ampul atau etiket tertera kapan obat tersebut kadaluwarsa. Perhatikan perubahan warna (dari bening menjadi keruh),  tablet menjadi basah atau bentuknya rusak.
h.      Benar Informasi
Pasien harus mendapatkan informasi yang benar tentang obat yang akan diberikan sehingga tidak ada lagi kesalahan dalam pemberian obat.
i.        Waspada Efek samping
Sebagai perawat kita harus mengetahui efek samping dari obat yang akan kita berikan. Sehingga kita lebih berhati -hati terhadap obat yang akan kita berikan ke pasien.

3.      Prinsip 12B
a.      Benar Klien
1.      Selalu dipastikan dengan memeriksa identitas pasien dengan memeriksa gelang identifikasi dan meminta menyebutkan namanya sendiri.
2.      Klien berhak untuk mengetahui alasan obat.
3.      Klien berhak untuk menolak penggunaan sebuah obat.
4.      Membedakan klien dengan dua nama yang sama.
b.     Benar Obat
1.      Klien dapat menerima obat yang telah diresepkan.
2.      Perawat bertanggung jawab untuk mengikuti perintah yang tepat.
3.      Perawat harus menghindari kesalahan, yaitu dengan membaca label obat minimal tiga kali:
a.       Pada saat melihat botol atau kemasan obat.
b.      Sebelum menuang/ menghisap obat
c.       Setelah menuang/ mengisap obat
4.      Memeriksa apakah perintah pengobatan lengkap dan sah
5.      Mengetahui alasan mengapa klien menerima obat tersebut
6.      Memberikan obat-obatan tanda: nama obat, tanggal kadaluarsa.
c.       Benar Dosis Obat
1.      Dosis yang diberikan klien sesuai dengan kondisi klien.
2.      Dosis yang diberikan dalam batas yang direkomendasikan untuk obat yang bersangkutan.
3.      Perawat harus teliti dalam menghitung secara akurat jumlah dosis yang akan diberikan, dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a)      Tersedianya obat dan dosis obat yang diresepkan/ diminta
b)      Pertimbangan berat badan klien (mg/KgBB/hari)
c)      Jika ragu-ragu dosis obat harus dihitung kembali dan diperiksa oleh perawat lain.
4.      Melihat batas yang direkomendasikan bagi dosis obat tertentu.
d.      Benar Waktu Pemberian
1.      Pemberian obat harus sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
2.      Dosis obat harian diberikan pada waktu tertentu dalam sehari. Misalnya seperti dua kali sehari, tiga kali sehat, empat kali sehari dan 6 kali sehari sehingga kadar obat dalam plasma tubuh dapat dipertimbangkan.
3.      Pemberian obat harus sesuai dengan waktu paruh obat (t ½ ). Obat yang mempunyai waktu paruh panjang diberikan sekali sehari, dan untuk obat yang memiliki waktu paruh pendek diberikan beberapa kali sehari pada selang waktu tertentu.
4.      Pemberian obat juga memperhatikan diberikan sebelum atau sesudah makan atau bersama makanan.
5.      Memberikan obat obat-obat seperti kalium dan aspirin yang dapat mengiritasi mukosa lambung bersama-sama dengan makanan.
6.      Menjadi tanggung jawab perawat untuk memeriksa apakah klien telah dijadwalkan untuk memeriksa diagnostik, seperti tes darah puasa yang merupakan kontraindikasi pemeriksaan obat.

e.       Benar Cara Pemberian (rute)
1.      Memperhatikan proses absorbsi obat dalam tubuh harus tepat dan memadai.
2.      Memperhatikan kemampuan klien dalam menelan sebelum memberikan obat-obat peroral.
3.      Menggunakan teknik aseptik sewaktu memberikan obat melalui rute parenteral
4.      Memberikan obat pada tempat yang sesuai dan tetap bersama dengan klien sampai obat oral telah ditelan.
Rute yang lebih sering dari absorpsi adalah :
1)      Oral ( melalui mulut ): cairan , suspensi ,pil , kaplet , atau kapsul.
2)      Sublingual ( di bawah lidah untuk absorpsi vena )
3)      Bukal (diantara gusi dan pipi)
4)      Topikal ( dipakai pada kulit )
5)      Inhalasi ( semprot aerosol )
6)      Instilasi ( pada mata, hidung, telinga, rektum atau vagina )
7)      Parenteral : intradermal , subkutan , intramuskular , dan intravena.
f.       Benar Dokumentasi
Pemberian obat sesuai dengan standar prosedur yang berlaku di rumah sakit dan selalu mencatat informasi yang sesuai mengenai obat yang telah diberikan serta respon klien terhadap pengobatan.
g.      Benar pendidikan kesehatan perihal medikasi klien
Perawat mempunyai tanggungjawab dalam melakukan pendidikan kesehatan pada pasien, keluarga dan masyarakat luas terutama yang berkaitan dengan obat seperti manfaat obat secara umum, penggunaan obat yang baik dan benar, alasan terapi obat dan kesehatan yang menyeluruh, hasil yang diharapkan setelah pembeian obat, efek samping dan reaksi yang merugikan dari obat, interaksi obat dengan obat dan obat dengan makanan, perubahan-perubahan yang diperlukan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari selama sakit, dsb.

h.      Hak klien untuk menolak
Klien berhak untuk menolak dalam pemberian obat. Perawat harus memberikan Inform consent dalam pemberian obat
.
i.        Benar pengkajian
Perawat selalu memeriksa TTV (Tanda-tanda vital) sebelum pemberian obat.
j.        Benar evaluasi
Perawat selalu melihat/memantau efek kerja dari obat setelah pemberiannya.
k.      Benar reaksi terhadap makanan
Obat memiliki efektivitas jika diberikan pada waktu yang tepat. Jika obat itu harus diminum sebelum makan (ante cimum atau a.c) untuk memperoleh kadar yang diperlukan harus diberi satu jam sebelum makan misalnya tetrasiklin, dan sebaiknya ada obat yang harus diminum setelah makan misalnya indometasin.
l.        Benar reaksi dengan obat lain
Pada penggunaan obat seperti chloramphenicol diberikan dengan omeprazol penggunaan pada penyakit kronis.















KESIMPULAN

Dari data yang diperoleh dapat kami simpulkan bahwa:
a.       Obat merupakan sebuah substansi yang diberikan kepada manusia atau binatang sebagai perawatan atau pengobatan bahkan pencegahan terhadap berbagai gangguan yang terjadi di dalam tubuh
b.      Menurut beberapa sumber, prinsip-prinsip pemberian obat pada pasien terdapat tiga pendapat, antara lain :
1.      Prinsip 6B
a)      Benar pasien
b)      Benar obat
c)      Benar dosis
d)     Benar cara/rute
e)      Benar waktu
f)       Benar dokumentasi
2.      8B 1W ( 8 Benar 1Waspada Efek Samping )


a)      Benar pasien
b)      Benar obat
c)      Prinsip Benar dosis
d)     Benar cara/rute
e)      Benar waktu
f)       Benar dokumentasi
g)      Benar Kadaluwarsa
h)      Benar informasi
i)        Waspada efek samping


3.      12B


a)      Benar klien
b)      Benar obat
c)      Benar dosis
d)     Benar waktu
e)      Benar cara/rute
f)       Benar dokumentasi
g)      Benar pendidikan kesehatan perihal medikasi klien
h)      Hak klien untuk menolak
i)        Benar pengkajian
j)        Benar evaluasi
k)      Benar reaksi terhadap makanan
l)        Benar reaksi dengan obat lain



Tidak ada komentar:

Posting Komentar